Bentuk awal mesjid kuno di Jawa (abad 15-16), sangat menarik. Banyak teori yang mengatakan bahwa bentuk dari mesjid kuno Jawa ini berasal kebudayaan Hindu-Jawa maupun dari penduduk Jawa sendiri . Tapi jarang sekali tulisan yang membahas tentang peran pertukangan Cina yang sangat
besar dalam pembangunan mesjid-mesjid kuno Jawa (terutama yang terletak di pantai Utara Jawa).

Beberapa diantaranya seperti Mesjid Demak (1474)), Mesjid Kudus (1537) dan Mesjid Mantingan (1559) dekat Jepara, yang terbukti secara fisik terdapat jejak-jejak pertukangan Cina, baik pertukangan batu maupun kayu disana. Tulisan ini merupakan studi awal yang mencoba untuk menelusuri keberadaan pertukangan Cina pada mesjid-mesjid kuno di Jawa tersebut.

Mesjid kuno di Jawa abad 15 dan 16 mempunyai bentuk yang sangat spesifik.
Arsitektur abad ke 15 dan 16 merupakan arsitektur transisi dari arsitektur Jawa-Hindu/Budha ke arsitektur Jawa-Islam. Masa transisi tersebut melahirkan bentukbentuk bangunan mesjid yang sangat spesifik.

Mesjid Kuno Jawa sebagai tempat ibadah kaum Muslim, tentunya sangat erathubungannya dengan awal masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Dewasa ini ada tiga buah teori tentang awal masuknya Islam ke Nusantara. Pertama, adalah teori Arab. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara , dibawa oleh pedagang yang berasal dari Arab (tepatnya Hadramaut) atau Timur Tengah.

Kedua adalah Teori India. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke
Nusantara berasal dari India2. Dan Ketiga adalah teori Cina. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara (terutama di P. Jawa), dibawa oleh komunitasCina-Muslim.

Teori Cina yang menyatakan masuknya Islam ke Jawa abad ke 15 dan 16, didukung oleh Sumanto al Qurtuby (2003), dimana pada abad-abad tersebut disebutnya sebagai jaman Sino-Javanese Muslim Culture dengan bukti di lapangan seperti:

Konstruksi Mesjid Demak (terutama soko tatal penyangga mesjid), ukiran batu padas di Mesjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu pada mesjid Menara di Kudus Sunan Giri di Gresik, elemen-elemen yang terdapat di keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, dsb.nya, semuanya ini menunjukkan adanya pengaruh pertukangan Cina yang kuat sekali.

Selama ini relatif jarang dibahas tentang pengaruh pertukangan (terutama batu dan kayu) Cina terhadap bangunan mesjid-mesjid kuno (abad 15 dan 16) di Jawa. Tulisan ini merupakan studi awal yang mencoba meneliti sampai sejauh manapengaruh pertukangan Cina ini terlibat dalam pembangunan mesjid-mesjid kuno di Jawa abad 15 dan 16.