Ungkapan bahasa Jawa adigang, adigung, adiguna tepat untuk menggambarkan kepongahan multidimensi seseorang, pengusaha, penguasa, pemimpin informal maupun formal, termasuk pejabat negara  dan pemerintah. Adigang berarti membanggakan kekuatan, adigung: membanggakan kebesaran atau keagungan (termasuk kebesaran harta benda atau kekayaannya) dan adigunamembanggakan kepandaian.

Dalam bahasa Sunda adigung-adiguna berarti takabur sekali, sangat sombong. (Kamus Lengkap Sunda-Indonesia, Indonesia-Sunda, Sunda-Sunda, Drs. Budi Rahayu Tamsyah, CV Pustaka Setia, Bandung, 2003). Pongah, congkak! Sifat ini bisa dihapus dengan penegakan hukum dan demokrasi yang menonjolkan kesetaraan.

Sunan Pakubuwana IV menuangkan ungkapan kuna tersebut dalam tembangGambuh dua pupuh (bait) untuk membandingkan ketiga sifat dengan perilaku binatang dan dampaknya, sebagai berikut.

Wonten pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang adigung pan esti
adiguna ula iku,
telu pisan mati sampyuh.

Si kidang ambegipun,
ngendelken kebat lumpatipun,
pan si gajah ngendelken geng ainggil
si ula ngendelken iku,
mandine wisa yen nyakot.

Adigang bagai kijang (rusa) yang membanggakan lompatannya. Adigung bak gajah yang berhobi pamer tinggi dan besar tubuhnya. Sedang adiguna seperti sifat ular yang bangga atas keampuhan bisanya yang mematikan.  Raja Surakarta abad XIX itu  mengungkapkan, ketiga sifat itu mengakibatkan kehancuran (sampyuh). Tentunya juga bagi pelakunya.

Jadi perilaku adigang, adigung, adiguna, merugikan bagi si pelaku dan mendatangkan penderitaan bagi yang menjadi objek perilakunya. Paling tidak perilaku ini menjadikan  suasana kehidupan orang lain atau masyarakat sekitarnya menjadi kurang nyaman.

Di kawasan Mataraman -daerah yang sebagian besar masyarakatnya menganut  atau memperhatikan budaya Jawa yang bersumber dari keraton Mataram ( Yogyakarta dan Surakarta) sebagai salah satu pedoman dalam bersikap dan berperilaku-di Jawa Timur mulai Nganjuk, Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo,  Madiun, Magetan hingga Ngawi, sampai sekarang tidak menaruh hormat kepada pribadi dan penguasa (juga pengusaha) yang adigang, adigung, adiguna.

Salahkah seseorang membanggakan kelebihannya? Tentu saja tidak selama tindakannya tidak menyebabkan pihak lain terganggu, dirugikan bahkan menderita, melecehkan hukum dan norma-norma yang berlaku. Apabila si pelaku tidak mau sadar,  tanpa memperhatikan situasi dan paradigma yang berlaku kini di sini, tetap memperagakan ketiga sifat itu, bisa saja berurusan dengan hukum.

Paling tidak dia   akan dikucilkan, minimal dirasani, menjadi bahan pergunjingan atau pembicaraan negatif, di lingkup pergaulannya. Apakah di aras internasional, nasional, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, desa, dusun, rukun warga, rukun tetangga, organisasi, partai, kantor, universitas, fakultas,  ataupun sekolah dan seterusnya, tergantung keluasan pergaulan dan lingkup aktivitasnya.

The Power of Powerless

Petruk dadi ratu

Paradigma yang kini berlaku di negeri ini, termasuk Jawa Timur, adalah demokratisasi dan penegakan hukum, setelah era reformasi digulirkan dengan perjuangan dan pengorbanan (keringat, darah dan air mata) sejak 1998. Demokrasi dan hukum bahu-membahu menegakkan keadilan, mengakiri kepongahan, ketakaburan, ke-adigang,adigung,adiguna-an, dalam berbagai aspek kehidupan yang  puluhan tahun menghimpit kehidupan warga powerless.

Ya, warga  yang  dikucilkan, yang dipinggirkan,  yang tidak berdaya melawan kesombongan politik, ekonomi, sosial dan hukum para pemegang hegemoni dan ber-adigang,adigung, adiguna, tanpa kendali.  Penguasa yang aji mumpung dan mumpung aji. Senyampang terhormat  menggunakan segala kesempatan untuk memuaskan berbagai nafsu yang dipakai sebagai barometer (semu dan relatif)  kehebatannya.

Ketegasan dalam penegakan hukum, salah satu saka guru demokrasi, berhasil mengakhiri (meski belum semua)  nafsu aji mumpung dan mengantarkan si adigang, adigung, adiguna, merenung berlama-lama dalam keterbatasan gerak fisik. Wajah-wajah terhormat yang semula dikelililingi berbagai fasilitas dan seakan untouchable, tidak bisa diganggu oleh hukum dan nilai-nilai ajaran kuna yang masih relevan untuk kehidupan masa kini, kini dapat disaksikan sayu melalui berbagai media, termasuk internet.

Kebiasaan adigang yang tetap terbawa dalam forum yang memaksa siapa pun harus menghormatinya, ketemu batunya. Terpaksa yang (semula) terhormat  harus mau menerima bentakan penjaga kehormatan forum.

Sang powerless perlu berterima kasih kepada para penegak hukum sepenuh hati dan bernyali. Ternyata menjadi tanpa daya dan  tak mungkin bisa ber-adigang, adigung, adiguna, sekali-sekali terasa nikmat. Hidup yang-menurut ajaran para sesepuh dan pinisepuh, tetua dan yang dituakan-sekadar mampir ngombe, mampir minum di dunia ini untuk meneruskan perjalanan ke keabadian di akhirat, terasa nikmat dengan kebebasan  meski dalam kondisipowerless.

Para tanpa daya juga perlu bersyukur di republik ini berkali-kali dilaksanakan pemilihan umum (pemilu), salah satu jenis pesta dan pilar demokrasi. Minimal dalam rentang waktu lima tahun ada empat jenis pemilu yang perlu dijalani oleh warga yang mempunyai hak pilih: pemilu bupati/walikota dan wakilnya, pemilu gubernur dan wakilnya, pemilu legislatif, dan pemilu presiden dan wakilnya.

Pemilu akan menjadikan para powerless memiliki power. Kekuasaan di tangan mereka (si powerless) untuk menentukan nasib para calon bupati, walikota, gubernur, presiden dan anggota lembaga legislatif (DPD, DPR, DPRD provinsi, kabupaten dan kota). Utang budi wajib dibayar dengan budi, utang power seharusnya dibayar denganpower.

Nah, jika nanti para calon yang bertarung dalam arena pemilu menang  secara sah dan meyakinkan sesuai dengan dambaan mereka, sudah sepatutnya berbagi power.  Berdayakan para tanpa daya sehingga mereka (terkadang) bisa ikut memamerkan sukses hidup meski tidak terjerumus dalam eforia adigang, adigung, adiguna.  Jadilah presiden dan anggota lembaga perwakilan rakyat yang menjadikan para powerless berdaya dan berjaya dalam berbagai aspek kehidupan. Warga powerless bukanlah si pecundang abadi!

(Catatan penulis: Bandingkan dengan 1 Korintus 13:4-7)