Peminggiran Sastra

Keberhasilan serat Centhini dalam mendiskripsikan dan mengkawinkan dua kebudayaan, bukan tanpa masalah. Keberadaan Centhini lebih lanjut dianggap sebagai canon pertemuan antara Islam dan Jawa. Kondisi seperti ini bukan tidak ada pertentangan dari para sastrawan Jawa.

Serat Darmogandhul misalnya, serat ini ditulis oleh orang tidak di kenal. Penulis serat itu menamai dirinya sebagai Ki Kalam Wadi. Darmogandhul merupakan sastra Jawa yang bercerita lain tentang keberadaan Islam dan Jawa. Bisa dikatakan bahwa Darmogandhul merupakan serat yang di tulis untuk melakukan perlawanan atas masuknya Islam dan Jawa.

Dalam serat Darmogandhul paling tidak kita bias melihat secara garis besar sebagai berikut. Pertama, Islam masuk di Jawa Bukan dengan cara yang baik-baik. Kedatangan Islam di Jawa juga menghabisi seluruh tinggalan-tinggalan kebudayaan Jawa.

Kedua, kebudayaan Jawa kalau tidak bisa dihilangkan dilabeli dengan Islam. Ketiga, Islam hendak mengganti kebudayaan Jawa dengan kebudayaan bangsa Arab. Selain Darmondhul ada beberapa serat yang sengaja dituliskan untuk menelanjangi masuknya Islam di Idonesia. Diantaranya adalah Gatholocho, Serat Cebolek, dan lain sebagainya.

Setelah Majapahit runtuh, serat-serat ini sempat membuat beberapa wali dan dan para punggawa Islam gerah. Meraka berusaha menutupi citra masuknya Islam dengan cara membuat mitos-mitos.

Salah satu mitosnya adalah Islam datang dengan cara damai, lewat perdagangan, perningkahan dan lain sebagainya. Ini adalah mitos-mitos yang sengaja dibuat oleh para wali. Mitos ini sengaja direproduksi terus menerus sambil mencari fakta-fakta yang mendukung mitos itu.

Serat-serat ini ditulis jauh sebelum Centhini dituliskan. Diskursif isi serat ini rupanya semakin tergilas oleh adanya serat-serat yang berbau Islam. Nah, Posisi Centhini ini bisa dianggap sebagai kemengangan Islam untuk menyingkirkan sastra-sastra perecok itu. Kiranya serat seperti Centhini ini adalah impian dari para pemuka Islam.

Pengislaman karya sastra Jawa, saya kira tidak hanya sebagai pertemuan dan negosiasi antara Jawa dan Islam. Sebagaimana di tulis Ulil Absor dalam Bentara Budaya tahun 2000.

Pengislaman Sastra Jawa juga merupakan strategi ulama’ Jawa untuk menyingkirkan sastra-sastra Jawa perecok. Dengan semakin menjamurnya sastra Jawa yang kental dengan tasawuf seperti serat Wedatama, serat Wirid Jati dan lain sebagainya, maka serat Darmogandhul meminggir Gatholoco semakin minggir dari pentas sastra Jawa. Inilah yang saya katakana sebagai politik kebudayaan.

Kebudayaan tinggi senantiasa meminggirkan kebudayaan pinggiran. Sebagai budaya yang dipinggirkan, maka keberadaannya senantiasa dimampatkan. Selain itu dalam ruang publik kebudayaan pinggiran tidak memiliki ruang.

Stigma yang muncul dari budaya tinggi terhadap budaya pinggiran adalah kerdil, jorok, sesat dan banyak lagi yang lainnya. Sebagai bangsa yang berbudaya, sampai kapan pemahaman kita terbelah dalam oposisi biner ini?

Edi Purwanto
Staff Redaksi JelajahBudaya dot com
Tulisan ini dipublikasikan di http://jelajahbudaya.com