Dimulai pada sore hari di malam satu suro para pedagang kaki lima mulai menggelar dagangannya dijalan yang menuju petilasan yang panjangnya kira-kira 2 km, petilasan Shree Mapanji Joyoboyo yang merupakan Raja Kadiri pada abad ke10 berada sekitar 12 km kearah timur dari kota Kediri Jawa Timur.

Malam harinya banyak orang berziarah dan melekan sampai pagi , sekitar 30 ribuan orang sangat padat seperti perayaan muludan di Kasepuhan Cirebon.Keramaian ini ditutup dengan arak pusaka dari petilasan Joyo boyo ke Pemandian Sendang Kamandanu yang berjarak 1 Km dari petilasan yang dilakukan pada siang hari jam 10-12 . juga ditampilkan karawitan dari Kediri dan Yogyakarta.

Pusaka yang dibawa berupa symbol yaitu keris, yang dibawa seorang gadis cantik berpakaian pengantin jawa dan dikawal oleh para sesepuh, emban-embanan dan puluhan pria tampan berpakaian adat jawa dan dikawal lagi puluhan pemuda berkaos hitam yang bertuliskan “paguyuban roso sejati”.

Dihari-hari berikutnya dibulan suro petilasan ini sangat ramai mencapai ratusan orang yang bertirakat, melekan , bahkan tidak tidur beberapa hari , bertafakur baik dengan sendirian maupun bersama seluruh keluarganya dari warga kediri sendiri, dari Bali, dari Yogyakarta, dari Jakarta dll.

Selain bulan suro petilasan ini masih banyak dikunjungi puluhan peziarah dari kediri atau dari luar daerah setiap harinya.