Serat Centhini

Serat Centhini adalah puncak karya sastra tulis Jawa klasik karya Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono V tatkala menjadi putra mahkota pada 1814. Sedangkan Centhini, yang berperawakan ramping, adalah seorang gadis pembantu rumah tangga suami-istri, Jayengresmi alias Amongraga dan Tembanglaras.

Serat Centhini ditulis menggunakan tembang macapat. Secara garis besar, serat ini menceritakan pengembaraan Jayengresmi menyusuri pulau Jawa dari Blambangan ke Banten hingga kembali menuju Mataram. Jayengresmi adalah salah seorang putra Sunan Giri III. (Denys Lombard, 2005: 155)

Serat Centhini nama resminya adalah Suluk Tembangraras. Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.

Isinya beragam, mulai dari bab agama Islam, ilmu lahir batin, gending, tari, hari buruk dan baik, tembang, sampai masakan Jawa. Bahkan soal keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, kuda, kesaktian, hingga ke soal hubungan intim suami-istri yang paling rahasia pun terangkum di sana.(Ulil Absor, 2000)

Dalam catatan analisa Denys Lombard pada tahun (1996), Serat Centhini terdiri dari 722 pupuh panjangnya, dan terdiri dari 12 bagian besar. Setiap pupuh terdiri dari baris-baris yang jumlahnya tidak tetap, yaitu antara 20-70 buah. Semuanya disusun menurut tembang tertentu. Tergantung tembang tertentu, bait bisa terdiri dari 4 sampai 9 larik.

Setiap larik mengandung sejumlah kaki mantra dan rima tertentu. Bisa kita hitung jika setiap pupuh rata-rata ada 40 bait dan setiap bait terdiri dari 7 larik, maka diperoleh 200.000 lebih. ( Lombard , 2005: 150) Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis dengan ambisi sebagai database pengetahuan Jawa.

Serat Centhini adalah cerminan dari negosiasi antara Islam dan Jawa. Dimana Islam tidak dianggap lagi sebagai budaya yang agung keberadaannya. Dalam surat Centhini, Islam dibaca sebagai sebuah kebudayaan yang sudah bercampur baur dengan kebudayaan Jawa.

Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Islam justru difahami dengan mengkontekstualisas ikan dengan budaya setempat. Hal ini nampak sekali dalam serat Centhini. Seolah antara Islam dan Jawa adalah satu kesatuan yang yang bisa terpisahkan lagi.

Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan keJawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya.

Berbeda dengan sebelumnya, kebanyakan orang menganggap bahwa Islam dan Jawa berupakan 2 entitas yang berbeda dan tidak bisa dipadukan. Kiranya serat Centhini ini memberikan gambaran betapa pertemuan antara keduanya sangat mungkin terjadi.

Sehingga terjadi pertukaran kebudayaan. Dimana budaya Jawa mengisi kekurangan tradisi Islam, demikian juga sebaliknya. Sastra Jawa kiranya mengalami pengislaman secara alamiah sehingga keduanya bisa hidup berdampingan dalam pengembangan sastra di Indonesia .