Sastra Jawa sebagai khasanah pemikiran yang berkembang, rupanya memiliki akar kekuatan dan khasanah yang luas atas sejarah perkembangan Jawa. Keberadaan serat-serat Jawa kuno merupakan representasi dari Jawa pada zaman itu.

Sekaligus sebagai alat legitimasi untuk pengukuhan identitas Jawa. Betapa tidak, hampir seluruh kejadian di Jawa pada saat itu senantiasa diceritakan lewat karya sastra. Manifestasi cerita-cerita itu berupa tembang, mantra, suluk dan lain sebagainya.

Seperti kebanyakan munculnya karya sastra yang lain, sastra Jawa timbul berawal dari adanya ketimpangan. Akan tetapi tidak sedikit sastra Jawa yang muncul untuk memperkuat sistem pemerintahan yang berkuasa pada saat itu.

Sastra dan Kekuasaan

Y.B. Mangunwijaya berpendapat bahwa sastra bukanlah persoalan bahasa saja. Sastra selalu ada hubunganya dengan religius. Sastra adalah intellectual exercise, sebuah dunia pemikiran yang menyimpan nilai-nilai kebenaran.

Akan tetapi perlu kita sadari bersama bahwa sastra juga sebagai arena untuk merepresentasikan kondisi sosial yang ada pada saat itu. Sastra juga tidak lepas dari kondisi politik. Dengan memposisikan sastra seperti ini kita akan mampu menganalisa tentang kuasa yang ada di balik sastra.

Hal ini dikarenakan setiap kerajaan yang berkuasa di Jawa senantiasa menuliskannya. Apapun yang terjadi di istana kerajaan senantiasa dituliskannya. Namun jangan heran jika tulisan yang dibuat istana ini bias kekuasaan.

Kekuasaan seperti yang di ungkapkan oleh Michael Foucault dalam Power of Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, (1972-1977). Buku ini menjelaskan bahwa, kekuasaan itu tidak melulu pada posisi subyek penguasa.

Kekuasaaan itu menyebar melewati diskursif. Untuk mengendalikan kekuasaan, manusia harus bisa menguasai pengetahuan. Karena pengetahuan itu tidak lain adalah cara untuk menguasai orang lain. Foucault memaknai kekuasaan tidak seperti Antonio Gramsci. Gramsci memahami bahwa kekuasaan itu ada pada subyek penguasa. K

alau memang begitu pemahaman Gramsci, maka kekuasaan tidak dikendalikan oleh pengetahuan sebagaimana di ungkapkan oleh Foucault. Akan tetapi kekuasaan itu dikondisikan dan dikendalikan melaui hegemoni. Rupanya di Jawa kekuasaan berjalan dengan menggunakan dua frame ini, yaitu hegemoni dan diskursif.

Pada pemerintahan Sultan Agung misalnya, setelah ia berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapatkan dukungan dari pesantren, maka dia mulai menyadari untuk menetapkan strategi budaya untuk menghubungkan dua kebudayaan yaitu Islam dan Jawa.

Strategi untuk membaurkan Islam dengan budaya Jawa dimulainya dengan mengganti tahun Saka berdasarkan perjalanan matahari, menjadi perhitungan Jawa berdasarkan bulan. Setelah itu disesaikan dengan perhitungan Hijriyah.

Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari diintegrasikan dengan mingguan Jawa yang terdiri dari 5 hari. Senin Wage Selasa Kliwon, Rabo Paing dan seterusnya. Demikian bulan bulan Jawa disesuaikan dengan bulan-bulan Hijriyah. Misalnya Mulud, Rejeb, Ruwah, Poso dan seterusnya.

Strategi yang dilakukan oleh Sultan Agung ini rupanya memberikan angin segar kepada sastrawan kejawen untuk menekuni pokok-pokok ajaran Islam. Hal ini sengaja dilakukan oleh para sastrawan guna mengembangkan khasanah sastra Jawa.

Dari persinggungan para sastrawan kejawen dengan Islam, munculah beberapa sastra yang lebih berbau percampuran antara Islam dan Jawa. Diantara kitab itu adalah Suluk Quthub, Suluk Sukma Lelana, Suluk She Amongraga, dan lain-lain.

Selain itu, pada saat-saat itu muncul beberapa cerita yang berbentuk babad. Seperti Babad Demak, Babad Tanah Jawa, Babad Tapel Adam, dan lain-lainnya. Tulisan-tulisan itu berbentuk prosa (gancar) ataupun puisi (macapat).

Kalau kita melihat yang dilakukan oleh Sultan Agung, memelihara sastra hanyalah sebuah siasat untuk mempertahankan posisinya sebagai raja. Strategi pengembangan sastra yang diberlakukan pada saat itu tidak lepas dari hegemoni Sultan Agung kepada para sastrawan Jawa.

Rupanya para sastrawan Jawa tidak bisa melepaskan hegemoni yang dilakukan oleh Sultan Agung. Maka dari itu, untuk mempertahankan kekuasaan dan kehormatan raja, para pujangga mengubah sastra Jawa kuno dengan dibumbui oleh beberapa pemikiran sufi.

Hal ini dilakukan agar karyanya bisa diterima oleh masyarakat pesantren ataupun masyarakat kejawen. Selain itu yang lebih penting adalah menyelamatkan posisi raja dari citra buruk di hadapan masyarakatnya. Serat Centhini merupakan salah satu hasil gubahan yang dilakukan oleh pujanggga sastra Jawa.